header 2
     
     
  menu
 
   
 
 
link
Kemnakertrans
   
   
   

widget
 
   
   
 

KAJIAN PENGELOLAAN DAN PENCAPAIAN SASARAN BANTUAN SARANA PRODUKSI PERTANIAN DIPERMUKIMAN TRANSMIGRASI

Untitled document

Jurnal Vol. 29 No. 2 Desember 2012. 128-137 

Slamet Rahmat TS

Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketransmigrasian, Kemenakertrans

Jln. TMP Kalibata No. 17, Jakarta

Telp/Faks (021) 7971010; Email: slamet_rts@yahoo.co.id

Tanggal diterima 2 Oktober 2012, direvisi 17 Oktober 2012 disetujui terbit 12 Desember 2012

 

Abstrak

Sebagai upaya peningkatan kesejahteraan transmigran, Pemerintah telahmemberikan input bantuan sarana produksi

untuk modal dasar transmigran dalam mengembangkan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi pengelolaan dan pencapaian sasaran bantuan sarana produksi pertanian bagi transmigran di permukiman transmigrasi lahan basah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah evaluasi dengan instrumen Pedoman Pemberian Bantuan Sarana Produksi Pertanian Bagi Transmigran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan bantuan sarana produksi sudah sesuai dengan mekanisme standar, tetapi belum mencapai tepat waktu, mutu, dan penggunaan. Hal ini karena penempatan kurang koordinasi dengan bidang pemberangkatan, pembangunan permukiman, dan sarana produksi. Untuk itu, disarankan dibuat jadual terpadu yang harus dipatuhi oleh semua komponen.

Kata Kunci: bantuan sarana produksi, pengelolaan, transmigrasi

 

Abstract

The government provides agricultural production inputs for the transmigrants to support their farming activities. The study aims to evaluate the management aspect and the achievements of the implementation of agricultural production inputs aids at the wetlands transmigration settlements. The evaluation method is applied in the study by

exercising the Guidance of Agricultural Production Inputs Aids for Transmigrants. The study shows that the management aspect has been implemented accordingly to the mechanism regulated by the guidance. However, it lacks of timely schedules, inputs quality and appropriate usage of the aids. Coordination between the responsible divisions becomes an issue. The study suggests for an integrated time schedule showing the development of the transmigration settlement, the departure and arrival of transmigrants, their placement in the resettlements establishment, and the production inputs divisions.

Keywords: production inputs aids, management, transmigration

 


selengkapnya...

PARTISIPASI TRANSMIGRAN DALAM PROGRAM INTEGRASI TERNAK-SAWIT DI DESA BRASAU

Untitled document

Jurnal Vol. 29 No. 2 Desember 2012. 96-108 

Suparyo Hugeng

Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketransmigrasian, Kemenakertrans

Jln. TMP Kalibata No. 17, Jakarta

Telp/Faks (021) 7971010; Email: masaryo_007@yahooo.co.id

Tanggal diterima 12 September 2012, direvisi 25 September 2012 disetujui terbit 2 Nopember 2012

 

Abstrak

Penelitian ini dilakukan diDesa Brasau, Provinsi Jambi. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui perkembangan populasi ternak sapi, dan partisipasi transmigran dalamprogram integrasi ternak-sawit. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa perkembangan sapi bantuan masih tergolong rendah. Partisipasi transmigran pada program integrasi ternaksawit tergolong sedang. Untuk meningkatkan partisipasi tersebut, perlu dilakukan sosialisasi budidaya ternak sapi terintegrasi dengan tanaman sawit.

KataKunci: partisipasi, integrasi ternak-sawit

 

Abstract

The study was conducted in Brasau Village, Jambi Province. The study is to analyze the growth of cattle population and the transmigrant participation in the cattle-palm oil integration program. The study shows that the growth of cattle population is low, and the rate of the transmigrant participation is moderate. To improve the participation, the farmers need socialization on integrated cattle-palm oil cultivation.

Keywords: participation, husbandry-palm oil integration

 


selengkapnya...

TRANSMIGRAN DAN TRAUMA KONFLIK ACEH

Untitled document

Jurnal Vol. 29 No. 2 Desember 2012. 69-78 

Fadjri Alihar

Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

GedungWidya Graha, Lantai 10

Jalan Jend. Gatot Subroto 10, Jakarta Selatan 12710

Telp/faks. (021) 5221687, Email : fadjri_alihar@yahoo.com

Tanggal diterima 19 September 2012, direvisi 8 Oktober 2012 disetujui terbit 29 Nopember 2012

 

Abstrak

Aceh termasuk salah satu provinsi yang paling belakangan menerima transmigran khususnya dari pulau Jawa. Sebelum konflik, jumlah transmigran di Aceh mencapai 40.705 KK atau sekitar 200 ribu jiwa. Tulisan ini mencoba

mengkaji kehidupan transmigran ketika berlangsungnya konflik di Aceh. Data yang digunakan dalam tulisan ini menggunakan data sekunder dan hasil-hasil penelitian tentang konflik dan transmigrasi yang pernah dilakukan di Aceh, terutama yangmelibatkan GerakanAcehMerdeka (GAM). Ketika terjadi konflik, lebih dari separuh transmigran mengungsi ke luar Aceh. Sebagian besar transmigran tidak lagi kembali ke Aceh karena trauma konflik akan terjadi kembali dan dapatmengancam kehidupan mereka. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan mengingat sejarah Aceh yang sarat dengan konflik. Seharusnya setelah MoU Helsinki pemerintah daerah Aceh segera mengembalikan para transmigran ke tempat asalnya di lokasi transmigrasi, dan ini merupakan parameter suksesnya programreintegrasi dan rekonsiliasi.

Kata Kunci: GerakanAcehMerdeka (GAM), konflik, transmigrasi,migrasi, reintegrasi, rekonsiliasi

 

Abstract

Aceh was the latest site of Javanese transmigrant settlement. Before the Aceh conflict occured, around 40.705 family heads (200.000 lives) occupied transmigrants’ settlements. This writing is to examine the livelihood of transmigrants in Aceh during the period of social-conflict, in particular involving the Aceh Rebellion Movement (GAM). The reason of this assessment concerns about half of the transmigrants who had been settled there, were moving out of Aceh. They were afraid that miseries of conflicts could occur again and again at any time in the future. Their fear if quite reasonable since Aceh has a long conflict history. This social-conflict should have been stopped after the Helsinki MoU, and return the transmigrants to their homes. This state of uncertainty and mistrust should be a relevance parameter for a successful program of reintegration as well as the effort of reconciliation.

Keywords: Aceh Rebellion Movement (GAM), conflict, transmigration, migration, reintegration, reconciliation

 


selengkapnya...


Halaman : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |

Total : 24 jurnal

 
     

| Home | Jurnal | Ringkasan | Kajian / Penelitian | Profil Peneliti |

Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketransmigrasian - Kemnakertrans R.I
Jl. TMP Kalibata 17 Jakarta Selatan